45. AL MUJIB (Dzat Yang Maha Mengabulkan Do’a) Apabila seorang hamba didalam menjalani kehidupan ini menerima kesulitan-kesulitan, maka hendaknya dia bermohon kepada Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala mengetahui segala kesulitan yang dihadapi hamba-hambaNya dan Dia berjanji akan mengabulkan permohonan hamba-hambaNya apabila sang hamba mau memohon kepadaNya. Akan tetapi yang dikabulkan oleh Allah Ta’ala adalah do’a orang-orang yang betul-betul beriman dan bergantung penuh hanya kepadaNya. Didalam berdo’a jangan berfikir tentang kapan terkabulnya, akan tetapi dengan berdo’a kita akan merasakan kedekatan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Karena Allah Ta’ala hanya ingin diakui keberadaan-Nya sebagai Tuhan, sehingga apabila kita bermohon kepada-Nya berarti kita mengakui Dia sebagai Tuhan. Oleh sebab itu, sesungguhnya do’a itu adalah ibadah. Bahkan didalam salah satu hadits dijelaskan bahwa orang-orang yang tidak mau berdo’a adalah orang-orang yang sombong. Akan tetapi perlu digaris bawahi bahwa yang dimaksud do’a disini adalah do’a-do’a yang sifatnya untuk kehidupan akhirat bukan untuk kebutuhan duniawi (hawa nafsu). Seperti berdo’a memohon ampun, berdo’a mohon diterima atas segala amal, berdo’a mohon dibimbing kejalan yang lurus dan lain sebagainya. Bukan berdo’a meminta rizki yang banyak, jabatan yang tinggi dan lain sebagainya. Akan tetapi do’a dibagi dua macam. 1. Do’a yang bernilai ibadah adalah do’a yang dimohonkan kepada Allah Ta’ala untuk kehidupan akhirat, dan tidak dengan pemaksaan. Kita menyadari bahwa diri kita adalah seorang hamba yang lemah dan faqir. Kepada siapa lagi kita akan meminta kalau tidak kepada Allah Ta’ala? Setelah berdo’a kita bertawakkal kepada Allah Ta’ala dan tidak berharap agar segera dikabulkan. 2. Do’a yang bernilai kefasikan adalah do’a yang dimohonkan kepada Allah Ta'ala untuk kehidupan dunia yang dilandasi karena keinginan hawa nafsu dan cenderung untuk memaksa Allah Ta’ala agar segera mengabulkan segala keinginanya dan dia lupa bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang tidak pantas untuk memaksa Allah Ta’ala. Sebetulnya do’a yang dinginkan oleh Allah Ta'ala adalah do’a-do’a yang telah Dia ajarkan didalam Al Qur’an. Seperti do’a minta selamat dunia dan akhirat, do’a agar dipelihara dari godaan syetan, do’a agar dimasukkan kedalam syurga, do’a agar dihindarkan dari azab neraka, do’a agar diampuni dosa, do’a agar diterima amal, do’a agar diberi anak yang sholeh dan sholehah dan lain sebagainya. Oleh sebab itu Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan do’a : “Robbana Atina Fuddunya Hasanah. Wafil Akhirati Hasanah Waqina Adza Bannaar”. Dan do’a ini selalu beliau letakkan dipenghujung do’a. Ada apa sebetulnya dengan do’a ini? Maksudnya adalah, dari beberapa do’a yang beliau mohonkan, apabila tidak membawa kebaikan didunia dan kebahagiaan diakhirat serta tidak menjuahkan dari azab neraka, beliau memohon agar Allah Ta'ala tidak mengabulkannya tetapi mengganti dengan yang lebih baik. Didalam hidup ini banyak sekali orang-orang yang berdo'a dan meminta segala sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah Ta'ala. Seperti berdo’a memohon rizki. Padahal rizki telah dijamin oleh Allah Ta'ala, sehingga berdo’a atau tidak pasti diberi oleh Allah Ta'ala. Allah Ta'ala memerintahkan agar kita berdo’a dengan perasaan harap dan cemas. Akan tetapi perasaan seperti ini hanya bisa dilakukan jika kita berdo’a untuk kehidupan akhirat. Sedangkan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu, dia akan selalu meminta untuk kehidupan dunia, sehingga dia sangat berharap bahkan memaksa agar dikabulkan. Sedikitpun dia tidak mempunyai rasa cemas, sehingga setelah dikabulkan dia akan bertambah durhaka kepada Allah Ta'ala. Rasulullah SAW selalu bermohon kepada Allah untuk selalu dibimbing kejalan yang lurus. Sesuai surat Al Fatihah (01) : 6 6. Tunjukilah Kami jalan yang lurus, Surat Al Baqarah : 201 201. Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka". Banyak sekali orang yang salah pemahaman tentang kebahagiaan didunia. Banyak sekali yang mengartikan bahwa kebahagiaan didunia adalah kaya raya, segala urusan lancar, jabatan tinggi, anak pintar-pintar dan lain sebagainya. Padahal yang dimaksud dengan kebahagiaan didunia disini adalah ketenangan jiwa. Hal ini sesuai dengan hadits Rasul yang menyatakan bahwa kebahagiaan itu letaknya bukan dimateri tetapi dihati“. Dan di hadist lain diterangkan bahwasanya tamak itu adalah kefaqiran yang abadi, karena selalu merasa kurang, sedangkan kebahagiaan yang haqiqi adalah qona’ah (sederhana). Oleh sebab itu orang yang kaya itu tidak dilihat dari harta bendanya, akan tetapi dari hatinya. Yaitu orang-orang yang merasa cukup dengan apa yang dia punya (qona’ah). Miskin dan kaya itu kita sendiri yang menentukan, tergantung tingkat qona’ah. Maka dari itu hhendaknya kita hidup sesuai dengan apa yang diinginkan Allah, itulah kunci qona’ah. Al Mujib ini jangan dibatasi hanya dengan minta dunia saja, karena dalam kehidupan dunia ini telah dijamin oleh Allah, tetapi memohonlah untuk kebahagiaan didunia dan diakhirat. Dan juga bukan untuk kebutuhan hawa nafsu, karena syarat terkabulnya do’a adalah do’a atas dasar ketaqwaan. Sesuai dengan surat Al Baqarah (2) : 186 186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran A. Sisi Tafakkurnya Berapa banyak kita berdo’a kepada Allah Ta’ala yang untuk kepentingan akhirat? dan berapa banyak kita berdo’a hanya untuk kepentingan duniawi? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang selalu memohon dan berdo’a kepada-Mu untuk kehidupan kami dihari akhir, bukan untuk berdo’a bagi kehidupan dunia kami. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa Allah Ta'ala pasti akan mengabulkan do’anya, apabila dia berdo’a berdasarkan ketaqwaan dan telah memenuhi syarat-syaratnya. Sedangkan syarat agar do’a dikabulkan telah Allah Ta'ala firmankan didalam Surat Al Baqarah (2) : 186 186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa didalam berdo’a tidak pernah memohon untuk kebutuhan hawa nafsunya. Karena harapan dia kepada Allah Ta'ala adalah untuk kehidupan hari akhir, yaitu dosanya diampuni dan amalnya diterima. Setelah itu dia akan berusaha untuk memenuhi syarat-syaratnya. Orang-orang yang bertaqwa didalam berdo’a dengan rasa harap dan cemas. Dia merasa cemas tidak dikabulkan, karena begitu banyak dosa yang telah dia lakukan. Tetapi kepada siapa lagi dia akan memohon jika tidak kepada Allah Ta'ala? sehingga tumbuh harapan yang besar agar dikabulkan. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kami dapat meyakini bahwa do’a-do’a yang kami mohonkan akan terijabah, serta lindungilah kami dari rasa ragu-ragu dan tidak meyakini do’a kami dikabulkan. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal apabila dia telah berdo’a kepada Allah Ta'ala berdasarkan ketaqwaan, maka masalah hasilnya dia serahkan kepada Allah Ta'ala. G. Sikap Orang Mukhlis Setelah dia bertawakkal, maka hasil apapun yang Allah Ta'ala berikan dia terima dengan ikhlas. Dia tidak perduli apakah do’anya dikabulkakn atau tidak, yang penting dia telah mendapatkan amal dengan berdo’a. Karena didalam salah satu hadits dijelaskan bahwa orang-orang yang tidak mau berdo’a adalah sombong. Padahal Allah Ta'ala sangat senang apabila dimintai oleh hamba-hambaNya. Berarti hamba-hambaNya mengakui-Nya sebagai Tuhan. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Mujib Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia tidak pernah ragu kepada Allah Ta’ala apabila ia berdo’a. Maksudnya adalah, apabila ia memohon ia yakin pasti akan dikabulkan, karena ia tahu bagaimana cara berdo’a yang benar dan syarat-syaratnya bagaimana. Kemudian terhadap sesama manusia, ia tidak pernah menolak apa-apa yang diminta oleh manusia kepadanya. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Mujib Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk memberikan apa-apa yang diinginkan oleh manusia, agar mereka dapat melihat bahwa sesungguhnya Engkau akan mengabulkan orang-orang yang memohon kepada-Mu.